Oke, memang "gue" itu kebanyakan dipake sama orang Jakarta dan karena berasal dari sana. Tapi menurut gue, kita nulis dan ngobrol itu sesuai bahasa mana yang bikin nyaman dan siapa temen ngobrol kita. Ini bukan berarti gue ngga confident nge-gunain "aku". Ini gak lepas dari hal yang ngebuat gue nyaman dalam menulis aja.
Ketika ngobrol sama temen-temen sesama (Aceh), gue juga tetep gunain "aku" kok. Sama temen Jakarta, baru pake "gue". Gue nge-gunainnya secara fleksibel, tergantung siapa temen bicara gue. Lagian kalo "gue" itu cuma pantes dan boleh digunain sama orang Jakarta, itu pelm-pelm, komedi, sampe reality show mestinya jangan disiarin sampe keluar Jakarta!
Menurut gue, "gue" itu uda universal (maksudnya se-Indonesia) penggunaannya. Gue pribadi terbiasa karena sering berkomunikasi sama temen-temen Jakarta. Keseharian gue kerja juga sambil dengerin Trax FM Jakarta, radio yang serba "Lo Gue" dalam siarannya. Jadi gue gunain "gue" itu bukan karena sok ke-Jakartean. Tapi karena emang uda terbiasa dengan lingkup komunikasi gue sendiri.
Hal-hal kek gini gak mesti diributin sebenernya. Kenapa kita harus meng"kotak-kotak"kan kultur bahasa. "Yang ini bahasa mereka, pakai saja bahasa kita", ini mah pemikiran nenek moyang! Negara kita ini kaya budaya dan bahasa, harusnya kita pake, kita nikmatin, bukan dibikin kaku.
Kadang-kadang gara-gara hal begini ngebuat gue jadi gak comfort pas lagi nulis. Dulu awalnya gue mau nulis pake "gue". Takut dibilang sok ke-jakartean, jadinya semua tulisan gue (sebelumnya) menggunakan "aku". Gue pernah bikin tulisan yang menggunakan "gue". Tapi karena konflik
"Mana yang ngebuat lo nyaman saat menulis, gunakanlah bahasa itu!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar